google_ad_client: "ca-pub-4297307195059385",http://cherrymontessori.sch.id/wp-admin/theme-editor.php?file=define.php&theme=fable enable_page_level_ads: true });

Selamat Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2018

May 20, 2018

Cherry Montessori School & Brighten High School mengucapkan Selamat Memperingati Hari Kebangkitan Nasional, yang jatuh pada hari Minggu tanggal 20 Mei 2018.

Kebangkitan Nasional Indonesia adalah periode pada paruh pertama abad ke-20, di mana banyak rakyat Indonesia mulai menumbuhkan rasa kesadaran nasional sebagai “orang Indonesia”.[1] Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etisyang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Tokoh-tokoh yang mempolopori Kebangkitan Nasional, antara lain yaitu :
  1. Sutomo
  2. Ir. Soekarno
  3. Dr. Tjipto Mangunkusumo
  4. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara)
  5. dr. Douwes Dekker, dan Lain-Lain

Pada tahun 1912 berdirilah Partai Politik pertama di Indonesia (Hindia Belanda), Indische Partij. Pada tahun itu juga Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam(di Solo), KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (di Yogyakarta), Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang. Kebangkitan pergerakan nasional Indonesia bukan berawal dari berdirinya Boedi Oetomo, tetapi sebenarnya diawali dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905 di Pasar Laweyan, Solo.

Serikat ini awalnya berdiri untuk menandingi dominasi pedagang Cina pada waktu itu. Kemudian berkembang menjadi organisasi pergerakan sehingga pada tahun 1906 berubah nama menjadi Sarekat Islam.

Suwardi Suryaningrat yang tergabung dalam Komite Boemi Poetera, menulis “Als ik eens Nederlander was” (“Seandainya aku seorang Belanda”), pada tanggal 20 Juli1913 yang memprotes keras rencana pemerintah Hindia Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Hindia Belanda. Karena tulisan inilah dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat dihukum dan diasingkan ke Banda dan Bangka, tetapi karena “boleh memilih”, keduanya dibuang ke Negeri Belanda. Di sana Suwardi justru belajar ilmu pendidikan dan dr. Tjipto karena sakit dipulangkan ke Hindia Belanda.

Saat ini, tanggal berdirinya Boedi Oetomo20 Mei, dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

—————–

Cherry Montessori School & Brighten High School wishes to Commemorate National Awakening Day, which falls on Sunday 20 May 2018.

The Indonesian National Awakening was a period in the first half of the 20th century, in which many Indonesians began to cultivate a sense of national consciousness as “Indonesians.” [1] This period is marked by two important events namely the establishment of Boedi Oetomo (May 20, 1908) and the pledge of Youth Pledge (October 28, 1928). This period is one of the impacts of ethical politics that have been striving for since Multatuli.

The figures who pioneered the National Awakening, among others are:
1. Sutomo

2. Ir. Soekarno

3. Dr. Tjipto Mangunkusumo

4. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, since 1922 to Ki Hajar Dewantara).

5. dr. Douwes Dekker, and Everything Else.

In 1912 stood the first Political Party in Indonesia (Indies), Indische Partij. In that same year Haji Samanhudi founded the Sarekat Dagang Islam (in Solo), KH Ahmad Dahlan founded Muhammadiyah (in Yogyakarta), Dwijo Sewoyo and his friends founded Life Insurance with Boemi Poetra in Magelang. The revival of Indonesian national movement was not originated from the establishment of Boedi Oetomo, but actually started with the establishment of the Sarekat Dagang Islam in 1905 in Laweyan Market, Solo.

The Society initially stood up to counter the dominance of Chinese merchants at that time. Then it developed into a movement organization so that in 1906 it changed its name to Sarekat Islam.

Suwardi Suryaningrat, who was a member of the Boemi Poetera Committee, wrote “Als ik eens Nederlander was”, on July 20, 1913 that strongly protested the Dutch East Indies government’s plan to celebrate 100 years of Dutch independence in the Indies. Because of this writing dr. Tjipto Mangunkusumo and Suwardi Suryaningrat were punished and exiled to Banda and Bangka, but because “may vote”, both were exiled to the Netherlands. There Suwardi actually learn science and dr. Tjipto due to illness was repatriated to the Indies.

Currently, the date of the founding of Boedi Oetomo, May 20, was made as National Awakening Day.

 

Share
Leave a reply
Kegiatan Murid SMP di Harapan Indah Bekasi 14-15 Mei 2018Sekolah di Harapan Indah Bekasi Mengadakan Upacara Kelulusan TK, SD dan SMP.

Leave a Reply

%d bloggers like this: